Senin, 05 Desember 2016
Tukar Jiwa
Kereta Taksaka Malam relasi Jogja - Jakarta malam ini mengalami keterlambatan karena adanya patah rel di kawasan Purwokerto. Alhasil, sudah pukul 1 dini hari dan kereta kami baru mulai berangkat dari Stasiun Purwokerto menuju Jakarta, mundur 2 jam dari yang seharusnya dijadwalkan. Lucunya, ini tidak menjadi hal yang merugikan untuk kami, namun justru menambah panjang waktu untuk kami menghabiskan sisa-sisa liburan. Memberikan waktu bagi kami untuk terus membicarakan apapun untuk menikmati sisa waktu bersama.
"Jika kau diberikan kesempatan untuk bertukar jiwa, kira-kira kau ingin bertukar jiwa dengan siapa?" tanyanya menarik.
"Aku?" tanyaku bukan untuk memastikan, hanya memberi jeda pada diriku sendiri untuk memikirkan jawaban dari pertanyaannya. Ia pun mengerti dan diam, hanya mengangguk untuk memberikan kebebasan bagiku untuk berkhayal.
"Kalau aku diberikan kesempatan untuk bertukar jiwa, aku akan memilih untuk bertukar jiwa dengan dirimu." Kataku perlahan. "Alasannya sederhana, bukan karena aku ingin melihat bagaimana cara kau memandangku dari sisimu, tapi hanya agar saat kita bertukar jiwa, kau bisa menjadi diriku dan mengetahui bagaimana aku memandangmu serta mengagumi dirimu, hingga akhirnya kau akan dapat merasakan posisi ku saat ini.." kataku, yang dipotong oleh dering notifikasi Whatsapp dari ponselnya. Terlihat, nama kekasihnya muncul di layar notifikasi tersebut, menanyakan kapan keretanya tiba di Gambir pasca gangguan rel patah agar sang kekasih bisa menyesuaikan waktu jemputnya.
Akupun menyudahi kata-kataku, mempersilahkannya untuk segera menjawab pesan kekasihnya karena aku tau bagaimana rasanya menunggu tanpa kepastian.
Terinspirasi dari lagu Tukar Jiwa milik Tulus. Salah satu lagu yang brilian, yang bisa menggambarkan betapa sulitnya berada di posisi seseorang yang mencintai orang lain untuk menceritakan bagaimana ia melihat sosok yang dicintainya dan seberapa besar rasa kagum yang dirasakannya. Karena semua itu tidak mungkin, satu-satunya cara ya hanya dengan melakukan Tukar Jiwa.
Jumat, 11 November 2016
Daun Pintu, Kunci & Gawang Pintu
![]() |
| Photo by @hellopetal1 |
Sore itu, selepas hujan ketika langit mulai kembali cerah menuju senja namun suasana basah masih sangat kuat terasa, terdengar percakapan antara Daun Pintu, Kunci dan Gawang Pintu di sebuah rumah di pojok jalan di Kota Bandung.
"Jadi, apa fungsimu pada sebuah rumah?" Tanya Kunci pada Daun Pintu.
"Aku menjadi penjaga dari Gawang Pintu agar tak selalu terbuka, sehingga tak sembarang orang dapat masuk dengan mudahnya. Saat aku tertutup, itu menjadi tanda bahwa siapapun yang ingin masuk harus izin terlebih dahulu. Karena bagaimanapun juga kita harus memilih siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk untuk singgah." Jelas Daun Pintu pada Kunci, yang dilanjutkan dengan pertanyaan baliknya pada Kunci. "Bagaimana dengan kau?".
"Sama sepertimu, tugasku pun untuk menjaga siapa-siapa saja yang boleh dan tidak boleh masuk. Namun, terkadang tertutup saja tidak cukup untuk menjaga rumah dari mereka yang suka sembarangan hadir lalu dengan seenaknya pergi sesuka hati. Maka dari itu rumah membutuhkan kunci, memastikan perlindungannya aman dari kehadiran mereka yang hanya mampir untuk sekedar bermain atau bahkan memiliki maksud jahat." Cerita Kunci pada Daun Pintu yang tadi melemparkan pertanyaan padanya.
"Lalu bagaimana dengan kau, Gawang Pintu?" Tanya Daun Pintu pada Gawang Pintu yang didukung oleh Kunci yang juga ikut penasaran.
"Aku? Fungsiku sederhana yaitu memberikan jalan untuk mereka siapapun itu yang ingin berkunjung ke dalam. Karena, tak selamanya kau harus memilih siapa saja yang boleh singgah dan siapa saja yang tidak. Karena pada kenyataannya, di luar sana banyak dari mereka yang memiliki niat tulus ingin bertamu tapi harus kembali pergi karena putus asa dan kelelahan setelah mengetuk berkali-kali namun tak kunjung juga dibukakan.." Kata Gawang Pintu yang menjadi akhir dari percakapan mereka sore itu.
Tak lama setelah itu datang seorang Driver Gojek yang mengetuk pintu untuk mengantar Bubur Ayam hangat pesanan sang penghuni yang sedang kedinginan dan kesepian pasca hujan lebat sore tadi.
KM 97 Tol Cipularang, 11 November 2016 pukul 03.14 sore. Mampir ke rest area ini lagi karena hujan deras yang tak kunjung reda. Niat awal mencari aman, tapi malah terjebak nostalgia pada akhirnya. Haha.
Paus
![]() |
| Photo by @kumbaka |
“Maruk, serakah dan tidak pernah puas.” Katanya sambil menaikkan
rem tangan dan meluruskan kaki pertanda telah pasrah dengan kondisi macet yang
makin parah.
“Kenapa begitu?” tanyaku.
“Mereka sangat mengutuk kemacetan, tapi mereka tetap pergi
keluar rumah saat weekend. Seakan macet sepulang kantor masih terasa kurang
juga.” Jelasnya yang diikuti dengan tawaku.
“Melihat kegilaan ini, menimbulkan 1 pertanyaan dalam
pikiranku. Jika kau diberikan 1 kesempatan untuk dilahirkan kembali dan tidak
menjadi manusia, kira-kira kau ingin dilahirkan menjadi apa?” Aku melemparkan
pertanyaan random, tiba-tiba.
“Ada baiknya, karena kau yang memiliki pertanyaan, kau dulu
yang menjawab. Biarkan aku berpikir lebih dulu sambil mendengarkan jawabanmu”
ucapnya. Aku seketika berpikir untuk menemukan jawaban dari pengandaianku
sendiri.
“Mungkin Paus?” Aku bertanya untuk jawabanku sendiri. Tanda
ragu-ragu.
“Karena?”
“Sesimpel karena paus itu……adorable. Gesture mereka,
gerakan tubuh mereka ketika menari saat mengarungi lautan sangat menawan. Saat mereka
melompat di udara, mereka terlihat lebih dari sekedar anggun.” Jelasku.
“Hanya itu?” Tanyanya memastikan. Akupun diam sejenak.
“Juga karena mereka memiliki kawanan yang setia menemani
mereka sejak kelahiran hingga saat mereka mati. Kawanan yang selalu ada setiap
harinya dalam mendampingi mereka membelah samudra. Kawanan yang membuat lautan
dingin maha luas jadi terasa hangat. Hidup mereka utuh, mereka tak pernah merasa
kesepian..” Aku menggantungkan jawabanku di sana membuat suasana sedikit
canggung.
“Bagaimana dengan kau? Sudah selesai berpikirnya?” Aku
berusaha mengakhiri keheningan yang sempat hadir.
“Sudah kuputuskan, jika aku mendapatkan kesempatan itu, aku
akan memberikannya padamu. Karena bagaimanapun buruknya aku dan hidupku, aku
akan tetap memilih menjalani hidup ini sebagai diriku dengan segala kelebihan
dan kekurangannya. Menjalani jatuh bangunnya hidupku yang telah membentuk aku
menjadi aku yang sekarang. Sekeras mungkin akan ku coba menikmati hidup ini
sebesar apapun rasa kesepian yang sering kali datang..”
Sebuah intro lagu tiba-tiba terdengar dari radio tepat
ketika ia menyelesaikan kalimatnya. Lagu yang menjadi lagu kesukaan kami berdua
sejak dulu. Membuat aku dan dia refleks bernyanyi, menyudahi obrolan random sore hari dari 2 orang yang
sama-sama kesepian namun tetap memilih hidup dalam kesendirian meski selalu
berjalan bersisian.
Depok, 11 November
2016 pukul 01.38 pagi. Menyelesaikan tulisan setelah seharian me-repeat True Love Waits – Radiohead. This
song helps me feeling better and makes me getting worse at the same time. LOL.
Selasa, 01 November 2016
Beringin Kembar
| Image from sayangi.com |
“Beringin kembar, kau tau kisah tentang
mereka?” tanyanya ketika semangkuk wedang ronde selesai dihidangkan di hadapan
kami. Membuka percakapan sebagai teman untuk menikmati minuman hangat ini di
pinggiran Alun-alun Kidul Jogja, tempat dimana sang beringin kembar berada.
“Kisah bahwa mereka adalah sepasang kekasih
yang ditugaskan untuk menjaga Keraton?” aku bertanya balik, sedikit asal.
“Ya, mungkin saja ada kisah seperti itu.
Tapi, bukan kisah itu yang kumaksud.”
“Lalu?”
“Kisah tentang beringin kembar dan
kaitannya dengan Jogja saat ini.” Ia mengawali kisahnya. “Kau tau, jika dulu
Jogja tak seperti sekarang ini. Dulu, tak sembarangan orang bisa masuk ke
Keraton atau bahkan berada di halamannya seperti yang sedang orang-orang
lakukan sekarang. Dan jika mereka memiliki akses ke dalam Keraton pun mereka
harus melepas alas kaki mereka, turun dari kuda atau kendaraan apapun yang
sedang mereka tunggangi dan berjalan setengah merunduk saat melintasi kedua
beringin itu. “
“Itu sesuatu hal yang wajar bukan untuk
sebuah kerajaan seperti Jogja?”
“Sangat wajar untuk sebuah kerjaan tapi
tidak untuk Kesultanan Jogja. Jogja itu ramah, Jogja itu rumah. Sifat
eksklusivitas yang dimiliki Keraton dulu sekali telah membuat suasana Jogja
terasa sangat kaku. Ada gap yang
besar antara Keraton dengan rakyat yang membuat tidak adanya ikatan emosional
yang kuat antara keduanya.”
Aku hanya mengangguk.
“Hingga akhirnya, pada tahun 1940 hadirlah
seorang Sultan yang membawa perubahan terhadap Jogja. Kau tau Sultan
Hamengkubuwono IX ‘kan?”
Aku menggangguk lagi.
“Dalam kepemimpinannya, Sultan
Hamengkubuwono IX mengubah sistem Keraton ke arah yang lebih merakyat atau
orang-orang sering menyebut dengan ‘Tahta Untuk Rakyat’. Ia menghapus
peraturan-peraturan yang dulu telah membuat hubungan Keraton dan rakyat menjadi
tidak dekat. Salah satunya, menghapuskan peraturan yang mengharuskan rakyat
berjalan merunduk tanpa alas kaki saat melewati beringin kembar. Hubungan
Keraton dan rakyat pun mencair, mencipatakan suasana yang hangat, ramah
bagaikan rumah hingga saat ini. Membuatmu pasti selalu ingin kembali untuk
pulang.” Katanya panjang lebar sambil sesekali menyesapi wedang ronde melalui
sendok cekung berbahan alumunium. Aku hanya mendengarkan, menunggunya untuk
melanjutkan kembali ceritanya.
“Hingga akhirnya, sekarang kau bisa melihat
rakyat bermain dengan bebas bersama beringin kembar itu, sambil mempertaruhkan
peruntungan nasib pada keduanya.” Lanjutnya.
“Jika mendengar ceritamu barusan, kondisi
beringin kembar dulu dengan sekarang sudah sangat berbeda. Tapi, menurutku, sebenarnya
kondisi keduanya kini masih sedikit sama dengan kondisinya saat dulu sebelum
Sultan Hamengkubuwono IX datang.” Kataku menginterupsi.
“Maksudmu?”
“Kau bisa melihat satu kesamaan antara dulu
dengan sekarang bahwa orang-orang masih harus mengeluarkan effort untuk bisa melewati kedua beringin ini. Dulu tanpa alas kaki
sambil setengah merunduk, sekarang dengan penutup mata sambil meraba-raba.” Kataku
yang kumaksudkan pada tradisi Masangin, dimana orang-orang berusaha untuk bisa berjalan
melewati kedua beringin tua itu dengan kedua mata tertutup dengan iming-iming
akan dikabulkan seluruh keinginannya ketika berhasil.
“Memang, orang-orang sangat pathetic dengan kehidupan mereka,
terutama kehidupan asmara mereka. Sampai-sampai menggantungkannya pada sepasang
beringin tua.” Katanya sedikit sinis.
“Asmara?” Tanyaku memastikan.
“Ya, asmara. Aku berani jamin kalau 99%
orang yang mengikuti permainan beringin kembar ini dimotivasi oleh urusan
percintaan. Termasuk kau.” Ia menyindirku yang baru saja selesai mencoba
peruntungan di beringin kembar. Aku hanya tertawa mendengarnya, menganggap
sindirannya hanya sebagai lelucon.
“Se-pathetic
itu kah orang-orang ini –dan mungkin juga aku?” Tanyaku.
“Menurutku, pathetic sudah cukup pas untuk menggambarkan kondisi mereka.”
“Karena?”
“Karena tak ada hal yang lebih menyedihkan dari menyerahkan kehidupan
percintaan pada sepasang beringin kembar yang tua. Di saat menjadi sendiri
seperti saat ini merupakan pilihan mereka–dan mungkin juga kau.”
“Pilihan?” ucapku dengan nada tidak setuju.
“Ya betul pilihan, yang berarti mereka –dan
juga kau, telah memilih untuk tidak menjalin hubungan perasaan dengan orang lain
atau memilih untuk sendiri.”
“Sepertinya aku kurang setuju dengan
ucapanmu ini. Bagaimana mungkin kau menyebut mereka ‘memilih’ di saat mereka
bahkan tak memiliki pilihan sama sekali? Maksudku, dengan mengikuti permainan
beringin kembar ini sudah dengan jelas menggambrakan seberapa putus asa mereka
karena tak kunjung mendapatkan pilihan selain tetap menjadi sendiri.”
“Sikap ngotot-mu
ini sebenarnya telah menunjukkan bahwa ‘memilih’ di sini benar-benar dilakukan
di luar alam sadarmu.” Ucapnya dengan nada penuh kemenangan. “Apakah kau tidak
sadar, dengan kau tetap terpaku pada seseorang yang selalu kau tunggu secara
tidak langsung kau telah memilih untuk tetap sendiri?” ia berusaha menghaluskan
ucapannya dengan menambahkan nada bertanya pada kalimatnya.
“Atau, contoh lainnya ketika kau membuat
sederet kriteria bagi orang yang akan membantumu menghapus kesendirianmu. Kau
bahkan tak memberikan kesempatan pada perasaan untuk tumbuh lebih dulu, namun
membunuhnya langsung sebelum ia bisa berkembang. Kau secara tidak langsung
telah memilih untuk sendiri.
Aku hanya diam. Kami berdua diam.
"Menjadi sendiri itu pilihan, karena pada kenyataannya kita memiliki pilihan lain untuk berbagi ruang hati dengan orang lain, hanya terkadang kita terlalu sibuk membangun dinding tinggi daripada membangun jembatan yang bisa menjadi pintu bagi orang lain untuk masuk ke kehidupan kita. Yang pada akhirnya membuat kita terkungkung di dalam ruangan berdinding tinggi tersebut, sendiri dan kesepian..” Ucapnya dingin.
Aku hanya diam. Kami berdua diam.
"Menjadi sendiri itu pilihan, karena pada kenyataannya kita memiliki pilihan lain untuk berbagi ruang hati dengan orang lain, hanya terkadang kita terlalu sibuk membangun dinding tinggi daripada membangun jembatan yang bisa menjadi pintu bagi orang lain untuk masuk ke kehidupan kita. Yang pada akhirnya membuat kita terkungkung di dalam ruangan berdinding tinggi tersebut, sendiri dan kesepian..” Ucapnya dingin.
Aku bersyukur dengan gerimis yang tiba-tiba
turun sesaat ketika ia menyelesaikan kalimatnya yang kemudian memaksa kami untuk menyudahi malam dan kembali ke
penginapan, membantuku mengalihkan pikiran dari apa yang telah ia ucapkan
barusan.
Jogja kala itu memang terus dilanda
mendung, gerimis hilang-timbul sepanjang hari tanpa henti. Membuat semangkuk
wedang ronde tadi menjadi pilihan yang tepat, menghangatkan hati yang
sebenarnya diam-diam merasa kesepian.
Depok, 01 November 2016 pukul 10.34 malam di Kedai Kopi Kesukaan: Mug. Tulisan diselesaikan saat sedang mendengarkan Overjoyed - Stevie Wonder karena benar-benar sedang overjoyed :)
Kamis, 13 Oktober 2016
Prau di Bulan Juni
Photo by: instagram.com/aminul_alawiyah
“Kau bisa melihat sendiri apa yang menjadi
alasanku betah untuk selalu datang dan datang lagi.” Katanya sambil merentangkan
kedua tangannya, menunjuk pemandangan Gunung Sumbing dan Sindoro yang menjulang
gagah membelah lautan awan di hadapan kami.
“Aku kira, kau punya alasan lain yang lebih
indah dari pemandangan ini. Kenangan bersama seseorang yang spesial, misalnya.”
Kataku.
“Memang, aku selalu ingin membawa seseorang
spesial dalam hidupku ke sini untuk bersama-sama menikmati apa yang sangat ku
sukai ini.” Ucapnya sambil tetap meletakkan pandangannya pada kedua gunung di
hadapan kami. “Tapi sayangnya, baru hari ini aku berhasil mewujudkan
keinginanku tersebut.” Akunya secara perlahan. Aku dapat merasakan ia berusaha
keras menjaga agar nada suaranya tetap stabil. “Jadi, aku menyukai tempat ini
benar-benar karena aku menyukainya, bukan karena ada kenangan bersama seseorang.”
Lanjutnya menegaskan.
Aku menanggapinya dengan diam, dan justru
membuang pandangku ke rerumputan di antara kedua pahaku yang memutih diselimuti
embun beku. Ia pun ikut diam dengan kembali menikmati apa yang ada di hadapan
kami: Gunung Sumbing & Sindoro yang terlihat serasi dengan saling
berdampingan. Di sekelilingnya kabut tipis dan lautan awan menyelimuti bagian
lereng mereka. Menyisakan misteri dan pertanyaan tentang apa yang ada di
baliknya.
“Apakah kau tau, tentang cerita di balik
keindahan pemandangan ini?” Tanyanya memecah keheningan. Aku geleng-geleng
karena tidak tau.
“Kalau begitu akan aku ceritakan.” Ucapnya.
“Kalau begitu akan aku dengarkan.” Balasku.
“Menurutmu, apakah Sindoro dan Sumbing
terlihat seperti sesuatu yang hidup? Sesuatu yang bukan hanya sekedar benda
mati layaknya sebuah gunung, melainkan memiliki jiwa?” Ia mengawali kisahnya
dengan sebuah pertanyaan. Aku hanya memberikan kerutan dahiku sebagai respon
tanda tidak tau.
“Masyarakat setempat percaya bahwa Sindoro dan
Sumbing dulunya adalah manusia. Mereka merupakan sepasang kekasih yang dipercaya oleh
Tuhan untuk menjadi sepasang gunung yang bertugas untuk menjaga Tanah Jawa.
“Mereka terlihat bahagia, hidup
berdampingan bersama-sama mengemban tugas mulia Yang Maha Kuasa. Setidaknya
terlihat dari betapa indahnya visualisai diri mereka saat ini. Seakan
menyiratkan jika mereka sangat mensyukuri keputusan Tuhan yang telah membuat mereka
kekal dalam kebersamaan.
“Namun, jika kau melihat lebih dalam lagi, sesungguhnya
mereka sangat menyesali hal ini. Keadaan sesungguhnya berbeda, tak seindah seperti
yang kita lihat sekarang. Kenyataannya, saat ini mereka tidak berdampingan
bersama seperti saat mereka masih menjadi manusia dulu. Mereka dipisahkan jarak
puluhan kilometer satu sama lain, bahkan keduanya berada di 2 kabupaten
berbeda.
“Mereka kesepian satu sama lain, hanya ada
hawa dingin yang selalu menemani mereka setiap harinya. Dan ini diperparah
dengan sifat kekal yang telah diputuskan Tuhan. Kesepian mereka abadi.
“Dan kau pasti mengerti jika rasa kesepian
itu membunuh secara perlahan....” Ia mengakhiri ceritanya dengan nada yang
menggantung, meletakkan dagunya di atas dengkul kakinya yang dilipat ke dada. Angin dingin
yang berhembus kencang, dan juga sepertinya cerita tentang Sindoro dan Sumbing
tadi, membuat aku juga ingin melakukannya, menghangatkan tubuh di tengah
suasana yang tiba-tiba menjadi bertambah dingin.
“Ceritamu sangat tragis, aku tidak suka.
Jangan suka membahas tentang suatu hal kecuali kau memang benar-benar merasakannya,
seperti rasa kesepian itu.” Kini posisi ku sama persis dengan dia, dengkul
dilipat ke dada dan kedua tangan memeluk kedua kaki erat-erat.
Kami banyak diam pagi itu. Entah karena
berfokus pada apa yang sedang alam suguhkan atau karena merasa terjebak oleh
keadaan yang memaksa kami untuk membahas hal yang selalu kami hindari untuk
kami bahas.
“Apakah aku tidak terlihat seperti seseorang
yang sangat kesepian?” tanyanya di tengah keheningan kami, dengan nada yang menyiratkan seberapa dalam rasa kesepian yang ia rasakan, membuatku bingung
harus merespon apa. Aku pun memilih tetap diam, sambil memikirkan apa yang
harus kukatakan untuk ucapannya barusan. Tapi sayangnya ia pun ikut diam.
Membuat aku terdesak untuk mengatakan apapun.
“Kalau memang kau kesepian, lalu mengapa
kau masih memilih untuk tetap sendiri sampai saat ini?” Akhirnya aku memberanikan diri untuk melanjutkan topik pembicaraan ini dengan melemparkan pertanyaan tersebut.
Dan lagi, ia menanggapi pertanyaanku dengan diam. Pertanyaanku tersebut telah
membuat udara menjadi terasa lebih dingin dan respon diamnya tersebut sukses
membuat suasana menjadi beku.
“Kau tau, jika tak semua hal yang sangat
kau inginkan harus kau miliki?” Katanya yang membuatku menoleh, meletakkan pandangku padanya.
Tidak berbicara apa-apa, mempersilahkan ia untuk melanjutkan kata-katanya.
“Ku berikan satu perumpamaan untuk
mempermudah hal ini." Katanya perlahan. "Sama halnya dengan keberadaan ku di sini, di tempat
favoritku ini. Seperti yang baru saja sudah aku ceritakan bahwa apa yang
membuatku jatuh cinta pada Prau bukanlah Prau itu sendiri, melainkan
pemandangan yang disuguhkannya yaitu Gunung Sumbing dan Sindoro di depan sana.
Keberadaan mereka berdualah yang membuatku rela bersusah-payah naik ke atas
sini sampai kali ketujuhnya karena hanya dari sinilah aku bisa menyaksikan
keindahan mereka. Tapi, jika kau tanya apakah aku pernah berkunjung ke kedua gunung
tersebut atau salah satunya, jawaban ku adalah tidak. Karena aku percaya, jika
tempat paling sempurna untuk menikmati keindahan mereka adalah dari sini. Jika
aku pergi ke sana, aku pasti tak akan mendapatkan apa yang sedang aku nikmati
saat ini..
“Karena pada akhirnya, ada beberapa hal
yang akan menjadi lebih indah jika kau tetap menjaga jarak darinya.
Menyaksikannya dari jauh, mengagumi tanpa diketahui, mencintai dengan
sembunyi-sembunyi…”
Perbincangan kami pagi itu menggantung pada
hening yang kembali menyelimuti kami. Matahari terus beranjak naik, membuat
embun beku yang menutupi permukaan rumput-rumput mencair. Udara pun menjadi
lebih hangat karena terpaan sinarnya. Seiring matahari yang semakin terik,
kabut dan awan yang menutupi lereng Sindoro dan Sumbing pun secara perlahan
naik sampai ke puncaknya hingga menutupi seluruh bagian keduanya. Seakan menjadi
tanda bahwa pertunjukkan Tuhan hari ini telah usai dan akan dilanjutkan lagi
esok hari.
Prau di bulan Juni yang merupakan waktu paling dingin dari Prau setiap tahunnya pun telah menghangat, namun tidak demikian dengan suasana yang ada di antara kami.
Depok, 12 Oktober 2016.
11.58 malam, sebelum beranjak tidur dengan ditemani lagu dari Daft Punk - Something About Us sambil tak henti-hentinya memikirkan seseorang di luar sana.
Kamis, 07 Juli 2016
Fireworks
![]() |
| Beautiful artwork that specially painted for this story by friend of mine, @zalfyanka |
“Kamu tau apa yang aku suka dari tahun baru?”
“Resolusi baru?” jawabnya sedikit
asal. “Walau sebenernya jarang juga sih ada orang yang bisa memenuhi resolusinya
setiap memasuki akhir tahun, sesederhana turun berat badan sekalipun.”
Aku diam yang kumaksudkan sebagai
‘bukan’. Karena memang aku bukan tipikal orang yang ramai-ramai membuat
resolusi setiap awal tahun dan kemudian lupa di bulan kedua.
“Kalau begitu, libur panjang? Dua
minggu tanpa gangguan klien cukup untuk membuat liburan akhir tahun selalu
dinantikan, ‘kan?”
“Ya, itu salah satunya. Tapi bukan
itu.”
“Lalu apa?”
“Kembang api.” kataku ringan yang
direspon dengan tawa kecil sarat sindiran. “Murahan banget ya.” lanjutku
sebelum ia mengucapkan kata-kata itu lebih dulu yang kemudian dibalas tepukan
halusnya di pundakku.
“Kenapa kembang api?” tanyanya
sambil melemparkan tatapan penasaran yang mendalam ke dalam pusat perasaanku.
“Sesimpel karena kembang api itu indah.
Atau menawan. Atau, apapun itu kau menyebutnya. Semua pasti setuju kalau kembang api itu satu-satunya yang
bisa membuatmu lama-lama mendongakkan kepala sambil mengagumi tanpa merasa
pegal di lehermu.”
“Aku setuju. Tapi ingin ku
koreksi sedikit.” Ia menyela. “Menurutku, yang indah itu bukan kembang
apinya, tapi justru momennya lah yang membuat kembang api itu jadi terlihat indah.
Dan, yang terpenting, orang yang kau ajak bersama saat menghabiskan momen tersebut yang
membuat kembang api menjadi terasa menawan.”
“Ya, aku setuju dengan hal itu.
Sebenarnya itu yang ingin aku katakan sebelum kau memotong ucapanku tadi.” Ucapku
sedikit tidak mau kalah. "Misalnya, kau menyalakan kembang api saat upacara
pemakaman nenekmu atau saat kucingmu baru saja jadi korban tabrak lari mobil
tetangga, tentu percikannya tidak akan terlihat seindah itu. Karena momennya ngawur.”
“Selain itu, perihal orang yang
kau ajak menikmati kembang api, itu aku juga setuju.” Lanjutku. “Tiap tahun,
aku tak pernah absen untuk datang ke tempat ramai dimana orang akan menyalakan
kembang api saat pergantian tahun. Alun-alun kampung halaman di Jogja, Bunderan
HI, sampai Times Square di New York. Dari mulai bareng keluarga, teman dan
temannya teman, sampai sendirian bersama stranger sepernasiban pun aku pernah. Dan
juga, bareng sama kamu khusus untuk tahun baru tahun lalu dan tahun ini. Kehadiran kalian
semua sama, menjadi pemeriah momen atau sekedar menjadi teman penghilang
ke-awkward-an saat bertepuk tangan kegirangan.” Aku berhenti bicara, memberikan
sedikit jeda. Mengalihkan pandanganku dari matanya ke jam tangan di lengan
kiriku. Pukul 23:51.
“Namun pada akhirnya, aku selalu
merasakan ada yang kurang." aku melanjutkan kalimatku. "Dari sekian banyaknya pesta malam tahun baru yang aku
saksikan, aku selalu merasa………kesepian. Kalian memang ada di sana, keluarga dan
teman-temanku serta kamu dan suara ledakan kembang api yang berbunyi
sahut-sahutan tanpa henti. Tapi, aku merasa itu semua hambar. Intinya, aku semacam
membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa aku genggam tangannya sambil
mengucapkan doa kebaikan untuk tahun yang akan datang di dalam hati
masing-masing. Karena justru, selama ini aku malah selalu curi-curi kesempatan
untuk meneriakkan doa atas keinginanku tersebut di sela-sela bisingnya suara
ledakan kembang api.” Kataku panjang lebar. Kami masih dalam posisi yang sama,
bersebelahan dengan ada sedikit jarak di antara ujung pundak kami, mendongak menghadap
ke arah langit. Namun mata kami
tetap di sana. Saling memandang satu sama lain lewat ekor mata masing-masing.
Kemudian hening datang, mengisi ruang di antara ujung
pundakku dan ujung pundaknya, menyisakan sedikit oksigen untuk dihirup.
“Kamu tau apa pelajaran yang bisa
kita ambil dari kembang api?” tanyanya memecah dead air yang semakin menguat.
Aku diam, tanda tidak tau. Bukan tanda
bahwa aku nyaman dengan dead air yang
ada.
“Bahwa, di balik sebuah keindahan
pasti ada kekurangan yang menyertai. Di balik indahnya percikan warna-warni
kembang api, selalu terdapat suara bising yang menyakitkan telinga.”
“Kau tidak bisa menyaksikan
indahnya kembang api tanpa suara ledakan, karena memang justru di situ lah
letak keindahannya. Harmoni antara yang memanjakan mata dengan yang melukai
telinga.”
“Namun, begitupula dengan
kekurangan, pasti akan selalu datang bersamaan dengan keindahan yang mungkin hanya
kau tidak sadari keberadaannya. Yang kau butuhkan hanyalah sedikit peka dan melihat jauh
lebih dalam sisi lain kekurangan itu.” lanjutnya.
Aku masih diam, hanya
mendengarkan.
“Pada akhirnya, berhentilah
mencari kesempurnaan, karena yang baik pasti selalu diikuti dengan kekurangan,
dan tentulah begitu pula kesebalikannya.”
Mata kami tidak lagi saling
melekat saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya tersebut. Bisa jadi karena mata
kami mulai sibuk menangkap setiap warna yang keluar dari pecahan kembang api di
udara. Ah, baru pukul 12 malam kurang 30 detik namun kembang api sudah ramai
menghiasi langit Kathmandu. Selamat tahun baru!
Kutoarjo, 7 Juli 2016.
12:29 dini hari dengan ditemani
playlist Black Keys, Payung Teduh dan Adhitia Sofyan.
Rabu, 05 Juni 2013
Pencari Keindahan
Untuk kamu yang selalu mencari keindahan.
Yang hingga akhirnya memaknai hidup sebagai sebuah paragrap dengan
titik yang entah berada dimana, yang disusun dengan tantanan huruf besar kecil sehingga
melukai matamu.
Dulu, kamu tak pernah bosan mendapati
kecewa karena ekspektasi yang terlampau tinggi, menolak untuk lelah saat yang
dikejar masih berlari lebih kencang, atau berpura-pura mendapatkan walau yang
sesungguhnya dicari masih bersembunyi.
Namun, bumi berputar, menyebabkan
yang siang merasakan malam. Waktu bergerak sehingga batre-batre jam kehabisan
energi untuk mengikuti langkahnya. Usia menua, menjadikan kain-kain pakaian
pudar berganti warna, gawang-gawang pintu rumah mulai kopong dimakan rayap.
Waktu memang ditakdirkan begitu, dengan penuh kuasa memfasilitasi terjadinya
perubahan dan dengan sombongnya menggiling apapun yang diam hingga hancur.
Kamu pun enggan hancur menjadi debu,
selayaknya rasa sabarmu yang habis dimakan rayap yang telah lebih dulu
menggerogoti gawang pintu. Lalu kamu memutuskan untuk melakukan pencarian itu
sendiri. Tanpa peta dan kompas usang yang tidak banyak membantu. Peta dan
kompas usang yang kemudian hanya memilih diam dan hancur direngkuh waktu.
Di saat serpihanku diterbangkan angin
bersama debu yang lain, kamu menemukan dia sebagai peta-mu yang baru. Yang
canggih. Yang di dalamnya terdapat gambar tujuan yang jelas yang bisa dicapai.
Yang bisa memberikanmu kepastian sehingga mengurangi rasa lelah akibat
dikecewakan. Yang pada akhirnya benar-benar membawamu sampai pada tujuan. Ya, kamu
berhasil menemukan keindahan itu. Bukan cuma satu, tapi seribu. Sampai-sampai
kamu dibuat pusing akan keindahan-keindahan yang hadir. Yang menyebabkanmu
kemudian memulai pencarian yang lain: mencari yang paling indah di antara
keindahan yang ada. Mengabdikan diri menjadi budak ketidakpuasan. Mengulangi
hal yang sama kepadanya, seperti yang kamu lakukan kepadaku dulu.
Namun, yang dicari enggan menampakkan diri.
Kamu frustasi. Merasa seolah-olah
kamulah orang yang belum pernah melihat keindahan itu. Seakan semesta mengutuk,
merenggut keindahan yang telah kamu berikan cap kepemilikan. Sampai akhirnya,
kamu benar-benar kehilangan semua keindahan-keindahan itu. Di saat keindahan
itu tidak pergi kemana-kemana, tetap di situ pada tempatnya.
Kamu terlampau ambisius, yang
menjadikanmu lupa bahwa sunrise dan sunset adalah sama-sama indah. Begitupula
dengan hujan dan cerah dengan pelangi yang dihadirkannya. Tidak ada yang paling
indah di antara keduanya. Keduanya sama. Karena sesungguhnya keindahan itu bukan
masalah membandingkan keindahan yang satu dengan keindahan lainnya, melainkan lebih sederhana dari hal
itu: keindahan adalah perihal dengan siapa kita menghabiskan keindahan itu
sendiri.
Diinspirasi oleh tweet seorang teman,
Rahmi Suci A.
Depok, 27 Februari 2013.
3.16 A.M.
Langganan:
Postingan (Atom)



